Selasa, 27 Desember 2016

Makalah Hubungan antara Kimia dengan Kimia Farmasi



MAKALAH

HUBUNGAN ANTARA KIMIA DENGAN KIMIA FARMASI

Dianjukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Farmasi oleh Pak Ardian Baitariza,M.Si,Apt



Disusun oleh:

Mayang Ratna Puri     D1A151116

II B Farmasi








FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS AL-GHIFARI
BANDUNG
2016


 

KATA PENGANTAR


Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya makalah yang berjudul “Hubungan antara Kimia dengan Kimia Farmasi” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun sebagai tugas untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Farmasi.
Penulisan makalah ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan yang masih perlu diperbaiki, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini, sehingga dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.



Bandung,    Juni 2016
                                   
Penulis

DAFTAR ISI





BAB I PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Farmasi merupakan suatu profesi kesehatan yang berhubungan dengan pembuatan bahan alam ataupun sintetik menjadi suatu produk yang cocok dan enak dipakai untuk mencegah, mendiagnosa, atau pengobatan penyakit dan distribusi dari suatu produk yang berkhasiat obat.

Kimia farmasi bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat fisika dan kimia dari bahan obat-obat. Khusus untuk bahan obat-obat yang berasal dari alam dipelajari dalam ilmu farmakognosi dan fitokimia, sehingga dalam ilmu kimia farmasi umumnya dipelajari bahan obat-obat yang berasal dari bahan sintetik. Proses mengenal sifat-sifat fisika dan kimia bahan obat ini disebut dengan identifikasi atau sering juga disebut analisa, sehingga ilmu kimia farmasi lebih cenderung disebut dengan ilmu kimia farmasi analisa atau kimia analisa farmasi. Secara garis besar, analisa farmasi dibagi menjadi 2 bagian yaitu analisa farmasi kualitatif dan analisa farmasi kuantitatif.

Analisa farmasi kualitatif ini meliputi analisa secara: Fisika Identifikasi secara organoleptis (bentuk, warna, bau, rasa dan lainnya), kelarutan, tetapan fisika (titik lebur, titik beku, titik didih, berat jenis, viskositas, dan lainnya), mikroskopis (melihat partikel obat menggunakan mikroskop).

Analisa farmasi kuantitatif ini meliputi analisa secara: Gravimetri Analisa dengan cara memisahkan senyawa atau campuran menjadi unsur tertentu dalam bentuk murni dan dihitung jumlah/kadar zat yang akan diperiksa berdasarkan penimbangan/ berat. Volumetri Yaitu analisa kadar suatu unsur/senyawa kimia dalam suatu larutan yang berasal dari bahan obat/obat dengan cara direaksikan dengan zat lain yang kadar/konsentrasinya telah diketahui.



B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan kimia ?
2.      Apa saja cabang ilmu kimia ?
3.      Apa yang dimaksud dengan farmasi
4.      Apa itu kimia farmasi ?
5.      Bagaimana ilmu kimia yang berhubungan dengan kimia farmasi ?
6.      Apa tujuan kimia farmasi ?
7.      Apa peranan kimia organik dalam kesehatan ?

C.    Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui pengertian kimia.
2.      Untuk mengetahui macam-macam cabang ilmu kimia.
3.      Untuk mengetahui pengertian farmasi.
4.      Untuk mengetahui pengertian kimia farmasi.
5.      Untuk mengetahui ilmu kimia yang berhubungan dengan kimia farmasi.
6.      Untuk mengetahui tujuan kimia farmasi.
7.      Untuk mengetahui peranan kimia organik dalam kesehatan.

D.    Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan makalah, penulis menggunakan metode library search dimana penulis menggunakan internet untuk mencari informasi tentang pengertian kimia, cabang ilmu kimia, pengertian farmasi, pengertian kimia farmasi, ilmu kimia yang berhubungan dengan kimia farmasi, tujuan kimia farmasi, dan peranan kimia organik dalam kesehatan.

 

BAB II PEMBAHASAN



A.    Pengertian Kimia

Semua materi normal terdiri dari atom atau Kimia (dari bahasa Arab: ,ءاي مي ك transliterasi: kimiya = perubahan benda/zat atau bahasa Yunani: χημεία, transliterasi: khemeia) adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi, struktur, dan sifat zat atau materi skala atom hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari. Kimia juga mempelajari pemahaman sifat dan interaksi atom individu dengan tujuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut pada tingkat makroskopik. Menurut kimia modern, sifat fisik materi umumnya ditentukan oleh struktur pada tingkat atom yang pada gilirannya ditentukan oleh gaya antaratom dan ikatan kimia.

Kimia sering disebut sebagai “ilmu andryan” karena menghubungkan berbagai ilmu lain, seperti fisika, ilmu bahan, nanoteknologi, biologi, farmasi, kedokteran, bioinformatika, dan geologi. Koneksi ini timbul melalui berbagai subdisiplin yang memanfaatkan konsep-konsep dari berbagai disiplin ilmu. Sebagai contoh, kimia fisik melibatkan penerapan prinsip-prinsip fisika terhadap materi pada tingkat atom dan molekul.

Perkawinan antar satu ilmu dengan ilmu yang lain tidak terbendung lagi. Satu masalah tidak dapat diselesaikan secara tuntas hanya dengan menggunakan satu pendekatan suatu cabang ilmu saja. Pemecahan masalah dengan pendekan mutidisiplin menjadi sebuah kebutuhan. Pada dasarnya seorang pakar hanya kompeten di bidang yang digelutinya, sehingga akan sangat bermanfaat jika para pakar berbagai bidang menyatukan tekat untuk saling mengisi dan melengkapi kepakarannya dengan memasukkan tinjauan dan analisis oleh pakar lain dalam menyelesaikan masalah.


B.     Cabang Ilmu Kimia

Kimia umumnya dibagi menjadi beberapa bidang utama. Terdapat pula beberapa cabang antar-bidang dan cabang-cabang yang lebih khusus dalam kimia.
Lima Cabang Utama:
1.      Kimia analitik adalah analisis cuplikan bahan untuk memperoleh pemahaman tentang susunan kimia dan strukturnya. Kimia analitik melibatkan metode eksperimen standar dalam kimia. Metode-metode ini dapat digunakan dalam semua subdisiplin lain dari kimia, kecuali untuk kimia teori murni.
2.      Biokimia mempelajari senyawa kimia, reaksi kimia, dan interaksi kimia yang terjadi dalam organisme hidup. Biokimia dan kimia organik berhubungan sangat erat, seperti dalam kimia medisinal atau neurokimia. Biokimia juga berhubungan dengan biologi molekular, fisiologi, dan genetika.
3.      Kimia anorganik mengkaji sifat-sifat dan reaksi senyawa anorganik. Perbedaan antara bidang organik dan anorganik tidaklah mutlak dan banyak terdapat tumpang tindih, khususnya dalam bidang kimia organologam.
4.      Kimia organik mengkaji struktur, sifat, komposisi, mekanisme, dan reaksi senyawa organik. Suatu senyawa organik didefinisikan sebagai segala senyawa yang berdasarkan rantai karbon.
5.      Kimia fisik mengkaji dasar fisik sistem dan proses kimia, khususnya energitika dan dinamika sistem dan proses tersebut. Bidang-bidang penting dalam kajian ini diantaranya termodinamika kimia,kinetika kimia, elektrokimia, mekanika statistika, dan spektroskopi.
Cabang – cabang Ilmu Kimia yang merupakan tumpang-tindih satu atau lebih lima cabang utama:
1.      Kimia Material menyangkut bagaimana menyiapkan, mengkarakterisasi, dan memahami cara kerja suatu bahan dengan kegunaan praktis.
2.      Kimia teori adalah studi kimia melalui penjabaran teori dasar (biasanya dalam matematika atau fisika). Secara spesifik, penerapan mekanika kuantum dalam kimia disebut kimia kuantum. Sejak akhir Perang Dunia II, perkembangan komputer telah memfasilitasi pengembangan sistematik kimia komputasi, yang merupakan seni pengembangan dan penerapan program komputer untuk menyelesaikan permasalahan kimia. Kimia teori memiliki banyak tumpang tindih (secara teori dan eksperimen) dengan fisika benda kondensi dan fisika molekular.
3.      Kimia nuklir mengkaji bagaimana partikel subatom bergabung dan membentuk inti. Transmutasi modern adalah bagian terbesar dari kimia nuklir dan tabel nuklida merupakan hasil sekaligus perangkat untuk bidang ini.
4.      Kimia Organik Bahan Alam mempelajari senyawa organik yang disintesis secara alami oleh alam, khususnya makhluk hidup.
5.      Bidang lain antara lain adalah astrokimia, biologi molekular, elektrokimia, farmakologi, fitokimia, fotokimia, genetika, molekular, geokimia, ilmu bahan, kimia aliran, kimia atmosfer, kimia benda padat,kimia hijau, kimia inti, kimia medisinal, kimia komputasi, kimia lingkungan, kimia organologam, kimia permukaan, kimia polimer, kimia supramolekular, nanoteknologi, petrokimia, sejarah kimia, sonokimia, teknik kimia, serta termokimia.

C.    Pengertian Farmasi

Farmasi (bahasa Inggris: pharmacy, bahasa Yunani: pharmacon, yang berarti: obat) merupakan salah satu bidang profesional kesehatan yang merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan dan ilmu kimia, yang mempunyai tanggung-jawab memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Ruang lingkup dari praktik farmasi termasuk praktik farmasi tradisional seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, serta pelayanan farmasi modern yang berhubungan dengan layanan terhadap pasien (patient care) di antaranya layanan klinik, evaluasi efikasi dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan informasi obat. Kata farmasi berasal dari kata farma (pharma). Farma merupakan istilah yang dipakai pada tahun 1400 - 1600an. Institusi farmasi Eropa pertama kali berdiri di Trier, Jerman, pada tahun 1241 dan tetap eksis sampai dengan sekarang.
Farmasis (apoteker) merupakan gelar profesional dengan keahlian di bidang farmasi. Farmasis biasa bertugas di institusi-institusi baik pemerintahan maupun swasta seperti badan pengawas obat/makanan, rumah sakit, industri farmasi, industri obat tradisional, apotek, dan di berbagai sarana kesehatan.




D.    Pengertian Kimia Farmasi

Kimia Farmasi adalah ilmu yang mempelajari tentang analisis kuantitatif dan kualitatif senyawa-senyawa kimia, baik dari golongan organik (alifatik, aromatik, alisiklik, heterosiklik) maupun anorganik yang berhubungan dengan khasiat dan penggunaannya sebagai obat.

E.     Ilmu Kimia yang Berhubungan dengan Kimia Farmasi

Ilmu kimia yang berhubungan dengan kimia farmasi adalah kimia dasar. Kimia dasar yaitu berasal dari bahasa Arab “kimiya” merupakan perubahan benda/zat atau bahasa Yunani “khemeia” adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi, struktur, dan sifat zat atau materi skala atom hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari. Dan ilmu kimia dapat membantu dalam proses pembuatan obat-obatan pada ilmu farmasi ini sangat berkaitan.

F.     Tujuan Kimia Farmasi

Kimia farmasi bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat fisika dan kimia dari bahan obat/obat. Khusus untuk bahan obat/obat yang berasal dari alam dipelajari dalam ilmu farmakognosi dan fitokimia, sehingga dalam ilmu kimia farmasi umumnya dipelajari bahan obat/obat yang berasal dari bahan sintetik. Proses mengenal sifat-sifat fisika dan kimia bahan obat ini disebut dengan identifikasi atau sering juga disebut analisa, sehingga ilmu kimia farmasi lebih cenderung disebut dengan ilmu kimia farmasi analisa atau kimia analisa farmasi. Secara garis besar, analisa farmasi dibagi menjadi:
1.      Analisa farmasi kualitatif ini meliputi analisa secara: Fisika Identifikasi secara organoleptis (bentuk, warna, bau, rasa dan lainnya), kelarutan, tetapan fisika (titik lebur, titik beku, titik didih, berat jenis, viskositas, dan lainnya), mikroskopis (melihat partikel obat menggunakan mikroskop). Kimia Analisa dengan menambahkan zat-zat kimia ke dalam bahan obat/obat yang diperiksa sehingga menimbulkan reaksi-reaksi tertentu yang dapat diidentifikasi secara kasat mata seperti terbentuknya endapan, warna, bau dan lainnya. Mikroskopis Analisa ini adalah dengan melihat partikel dari unsur/senyawa yang terkandung dalam bahan obat/obat. Dapat dilihat langsung menggunakan mikroskop, atau direaksikan terlebih dahulu dengan zat kimia tertentu kemudian dilihat menggunakan mikroskop. Instrumental Yaitu analisa/penentuan jenis suatu unsur/senyawa dari suatu bahan obat menggunakan instrumen/alat yang kompleks/modern seperti spektrofotometer, kromatografi, Atomic Absorbans Spektrofotometri (AAS), dan lainnya.

2.      Analisa farmasi kuantitatif ini meliputi analisa secara: Gravimetri Analisa dengan cara memisahkan senyawa atau campuran menjadi unsur tertentu dalam bentuk murni dan dihitung jumlah/kadar zat yang akan diperiksa berdasarkan penimbangan/ berat. Volumetri Yaitu analisa kadar suatu unsur/senyawa kimia dalam suatu larutan yang berasal dari bahan obat/obat dengan cara direaksikan dengan zat lain yang kadar/konsentrasinya telah diketahui. Instrumental Yaitu analisa jumlah/kadar suatu unsur/senyawa dari suatu bahan obat menggunakan instrumen/alat yang kompleks/modern seperti spektrofotometer, kromatografi, dan lainnya.
       

G.    Peranan Kimia Organik dalam Kesehatan

Beberapa peranan penting penelitian dan pengembangan Kimia Organik dalam kesehatan diantaranya ialah:
·         Untuk mengubah desain dan sintesis dari molekul kecil dalam organisme sehingga dapat berinteraksi dengan protein pada gen. Penelitian dan pengetahuan mengenai hal ini sangat diperlukan dalam mendesain obat-obatan untuk beragam penyakit.
·         Mengembangkan penelitian mengenai tingkat racun berbagai senyawa. Penelitian mengenai ini sangat penting karena dapat memberikan data akurat mengenai sifat racun suatu senyawa, sehingga tidak terekpos ke dalam tubuh organisme terutama manusia
·         Mendukung dalam penelitian klinis menggunakan teknik-teknik kimia.
·         Mendesain obat-obatan yang dapat bekerja lebih efektif dari sebelumnya merupakan hal yang dipelajari dalam biokimia.
·         Mengembangkan obat yang lebih selektif dan tepat sasaran untuk menyembuhkan penyakit.

 

BAB III PENUTUP

           

A.    Kesimpulan

Hubungan antara kimia dengan kimia farmasi sangat berhubungan karena dapat membantu dalam proses pembuatan obat-obatan dan ilmu kimia, yang mempunyai tanggung-jawab memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. mendukung dalam penelitian klinis menggunakan teknik-teknik kimia.

B.     Saran

Sebaiknya dalam mempelajari ilmu farmasi kita harus terlebih dahulu mendalami ilmu dasar yang menyokong ilmu farmasi tersebut, seperti farmakologi, farmakognosi, fitokimia, kimia farmasi, farmasetika dan lain-lain, supaya dalam belajar maupun praktek kita mudah memahami ilmu tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA


https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20130827031912AAaBoAf
http://chapart1.blogspot.co.id/2013/03/kimia-dasar.html
http://coretanguesendiri.blogspot.co.id/2012/07/kaitan-ilmu-kimia-dengan-ilmu-ilmu-lain.html
http://www.mystupidtheory.com/2015/08/peranan-ilmu-kimia-bidang-kesehatan.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Farmasi            
http://ilmu-kefarmasian.blogspot.co.id/2013/06/cabang-ilmu-farmasi.html

laporan praktikum kimia analitik argentometri



LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK
Argentometri
Oleh
Nama : Mayang Ratna Puri
                                                            NIM   : D1A151116
Partner
                                            Nama/NIM : Kristiyanti                         D1A151124
        Nama/NIM : Taufik Septian Hidayat     D1A151071
                                                              



LABORATORIUM KIMIA ANALITIK JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS AL-GHIFARI
BANDUNG
2016
BAB I
PRINSIP DAN TUJUAN PERCOBAAN

A.    Prinsip Percobaan
Berdasarkan reaksi pengendapan  dengan AgNO3 sebagai larutan standar.

B.     Tujuan Percobaan
Menentukan kadar Clorida (Cl).
































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Titrasi Pengendapan
            Titrasi pengendapan adalah salah satu golongan titrasi dimana hasil reaksi titrasinya merupakan endapan atau garam yang sukar larut. Prinsip dasarnya ialah reaksi pengendapan yang cepat mencapai kesetimbangan pada setiap penambahan titran, tidak ada pengotor yang mengganggu serta diperlukan indikator untuk melihat titik akhir titrasi. Hanya reaksi pengendapan yang dapat digunakan pada titrasi. (Khopkar, 1990)

B.     Pengertian Argentometri
Istilah argentometri diturunkan dari bahasa latin argentum, yang berarti perak. Jadi argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+. Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat AgNO3. Dengan mengukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag+ dapat tepat diendapkan, kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan. (Underwood, 1992)

C. Cara Mohr
            Pada metode ini, titrasi halide dengan AgNO3 dilakukan dengan K2CrO4. Pada titrasi ini akan terbentuk endapan baru yang berwarna. Pada titik akhir titrasi, ion Ag+ yang berlebih diendapkan sebagai Ag2CrO4 yang berwarna merah bata. Larutan harus bersifat netral atau sedikit bas, tetapi tidak boleh terlalu basa sebab Ag akan diendapkan sebagai Ag(OH)2. Jika larutan terlalu asam maka titik akhir titrasi tidak terlihat sebab konsentrasi CrO4- berkurang.
            Pada kondisi yang cocok, metode mohr cukup akurat dan dapat digunakan pada konsentrasi klorida yang rendah. Pada jenis titrasi ini, endapan indikator berwarna harus lebih larut disbanding endapan utama yang terbentuk selama titrasi. Indikator tersebut biasanya digunakan pada titrasi sulfat dengan BaCl2, dengan titik akhir akhir terbentuknya endapan garam Ba yang berwarna merah. (Khopkar, 1990)

D. Cara Volhard
            Titrasi Ag dengan NH4SCN dengan garam Fe(III) sebagai indikator adalah contoh metode volhard, yaitu pembentukan zat berwarna didalam larutan. Selama titrasi, AgSCN terbentuk sedangkan titik akhir tercapai bila NH4SCN yang berlebih bereaksi dengan Fe(III) membentuk warna merah gelap [FeSCN]2+.
            Pada metode volhard, untuk menentukan ion klorida suasana haruslah asam karena pada suasana basa Fe3+ akan terhidrolisis. AgNO3 berlebih yang ditambahkan ke larutan klorida tentunya tidak bereaksi. Larutan Ag+ tersebut kemudian dititrasi balik dengan menggunakan Fe(III) sebagai indikator. (Khopkar, 1990)

E.  Cara Fajans
            Dalam titrasi fajans digunakan indikator adsorpsi. Indikator adsorpsi ialah zat yang dapat diserap pada permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Penyerapan ini dapat diatur agar terjadi pada titik ekuivalen, antara lain dengan memilih macam indikator yang dipakai dan pH.
            Indikator ini ialah asam lemah atau basa lemah organic yang dapat membentuk endapan dengan ion perak. Misalnya flouresein yang digunakan dalam titrasi ion klorida. Dalam larutan, flouresein akan mengion (untuk mudahnya ditulis HFI) :
HFI  Û  H+  +  FI-
            Ion FI- inilah yang diserap oleh endapan AgX dan menyebabkan endapan berwarna merah muda.
            Flouresein sendiri dalam larutan berwarna hijau kuning, sehingga titik akhir dalam titrasi ini diketahui berdasar tiga macam perubahan, yakni (i) endapan yang semula putih menjadi merah muda dan endapan terlihat menggumpal, (ii) larutan yang semula keruh menjadi lebih jernih, dan (iii) larutan yang semula kuning hijau hampir tidak berwarna lagi. (Harjadi, 1990)

F.  Penetapan Titik Akhir Dalam Reaksi Pengenda
1.      Pembentukan suatu endapan berwarna
      Ini dapat diilustrasikan dengan prosedur mohr untuk penetapan klorida dan bromide. Pada titrasi suatu larutan netral dari ion klorida dengan larutan perak nitrat, sedikit larutan kalium kromat ditambahkan untuk berfungsi sebagai indikator. Pada titik akhir, ion kromat ini bergabung dengan ion perak untuk membentuk perak kromat merah yang sangat sedikit sekali dapat larut. Titrasi ini hendaknya dilakukan dalam suasana netral atau sangat sedikit sekali basa, yakni dalam jangkauan pH 6,59. (Bassett, 1994)

2.      Pembentukan suatu senyawaan berwarna yang dapat larut
      Contoh prosedur ini adalah metode volhard untuk titrasi perak dengan adanya asam nitrat bebas dengan larutan kalium atau ammonium tiosianat standar. Indikatornya adalah larutan besi(III) ammonium sulfat. Penambahan larutan tiosianat menghasilkan mula-mula endapan perak klorida. Kelebihan tiosianat yang paling sedikitpun akan menghasilkan pewarnaan coklat kemerahan, disebabkan oleh terbentuknya suatu ion kompleks.
               Ag+  +  SCN-  Û  AgSCN
               Fe3+  + SCN-  Û [FeSCN]2+
      Metode ini dapat diterapkan untuk penetapan klorida, bromide dan iodide dalam larutan asam. Larutan perak nitrat standar berlebih ditambahkan dan kelebihannya dititrasi balik dengan larutan tiosianat standar. (Bassett, 1994)
               Ag+  +  Cl-  Û  AgCl
               Ag+  +  SCN-  Û  AgSCN

3.      Penggunaan indikator adsorpsi
      Aksi dari indikator-indikator ini disebabkan oleh fakta bahwa pada titik ekuivalen, indikator itu diadsorpsi oleh endapan dan selama proses adsorpsi terjadi suatu perubahan dalam indikator yang menimbulkan suatu zat dengan warna berbeda, maka dinamakan indikator adsorpsi.
      Zat-zat yang digunakan adalah zat-zat warna asam, seperti warna deret flouresein misalnya flouresein an eosin yang digunakan sebagai garam natriumnya.
      Untuk titrasi klorida, boleh dipakai flouresein. Suatu larutan perak klorida dititrasi dengan larutan perak nitrat, perak klorida yang mengendap mengadsorpsi ion-ion klorida. Ion flouresein akan membentuk suatu kompleks dari perak yang merah jambu. (Bassett, 1994)
G.    Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat adalah :
1.      pH
2.      Temperature
3.      Jenis pelarut
4.      Bentuk dan ukuran partikel
5.      Konstata dielektrik pelarut
6.      Adanya zat-zat lain







BAB III
ALAT BAHAN DAN PROSEDUR PERCOBAAN

A.    Alat Percobaan
1.      Buret
2.      Labu ukur 100 mL 1 buah
3.      Erlenmeyer 3 buah
4.      Gelas ukur / pipet volum

B.     Bahan Percobaan
1.      NaCl
2.      Indikator K2CrO4 5%
3.      AgNO3

C.    Prosedur Percobaan
1.      Pipet 10 mL larutan sampel NaCl ke dalam labu ukur 100 mL dan encerkan sampai tanda batas.
2.      Pipet larutan NaCl tersebut sebanyak 10 mL ke dalam Erlenmeyer lalu tambahkan 1 mL indikator K2CrO4.
3.      Masukkan AgNO3 ke dalam buret kemudian lakukan titrasi larutan NaCl dengan AgNO3 hingga terjadi endapan merah bata yang konstan.
4.      Hitung kadar Cl dalam NaCl.

















BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN



A.    Hasil Percobaan
NaCl
AgNO3
V.awal
V.akhir
V.terpakai
10 mL
0 Ml
12 mL
12 mL
10 mL
12 Ml
21 mL
9 mL
10 mL
21 Ml
30,5 mL
9,5 mL
Rata – rata
10,16 mL

Perhitungan :
1.      Standarisasi larutan AgNO3 dengan larutan NaCl 0,1 N
N1 . V1 =  N2 .V2
N1 . 10 = 0,1 . 10,16
N1 . 10 = 1,016
       N1 =
       N1 = 0,1016  N

2.      Penentuan kadar Cl dalam garam dapur (Metode Mohr)
Kadar Cl =  × 100%
                =  × 100 %
              = 0,244%

B.     Pembahasan
Dasar teori argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana Ag+ dari titran akan bereaksi dengan Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut.
Metode yang digunakan pada standarisasi AgNO3 dengan NaCl adalah metode mohr dengan indikator K2CrO4. Penambahan indikator ini akan menjadikan warna larutan menjadi kuning. Titrasi dilakukan hingga mencapai titik ekuivalen. Titik ekuivalen ditandai dengan berubahnya warna larutan menjadi merah bata dan munculnya endapan putih secara permanen. Konsentrasi yang didapatkan adalah 0,1016 dengan rata-rata volume titrasi 10,16 mL. Dan menghasilkan kadar Cl sebesar 0,244%.





BAB V
KESIMPULAN


Dapat disimpulkan dari percobaan ini standarisasi larutan AgNO3 dilakukan dengan metode Mohr. Larutan standar primer yang digunakan adalah NaCl dan larutan K2CrO4 sebagai indikator. Mengasilakan rata-rata volume titrasi yaitu 10,16 mL, didapatkan konsentrasi 0,1016 N dan juga menghasilkan kadar Cl sebesar 0,244%.































DAFTAR PUSTAKA


http://fazaneilisa.blogspot.co.id/2014/01/titrasi-pengendapan-argentometri-i.html
Bassett, J. 1994. Buku Ajar Vogel : Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Buku Kedokteran : EGC. Jakarta.
Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia. Jakarta.
Khopkar, S. M. 1990.  Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia. Jakarta.
Day, RA. Jr dan Al Underwood. 1992. Analisis Kimia Kuantitatif edisi kelima. Erlangga. Jakarta.
























LAMPIRAN


1.      Larutan NaCl ditambahkan indikator K2CrO




2.      Standarisasi larutan AgNO3 dengan larutan NaCl + indikator K2CrO4